Chairul
Tanjung
Prof.
drg. Chairul Tanjung, M.B.A. (ejaan Soewandi: Chairul Tandjung, lahir di
Jakarta, 16 Juni 1962) adalah pengusaha asal Indonesia. Ia
menjabat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa sejak 19 Mei 2014
hingga 20 Oktober 2014. Namanya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang
memimpin CT Corp.
Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 1 Jakarta pada tahun 1981, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. (lulus 1987). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis dan juga mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.
Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 1 Jakarta pada tahun 1981, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. (lulus 1987). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis dan juga mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.
Demi
memenuhi kebutuhan kuliah, ia berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan foto
kopi di kampus. Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran
dan laboratorium di bilangan Senen, Jakarta Pusat, namun bangkrut. Selepas
kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada
tahun 1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu
anak-anak untuk ekspor Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan
tersebut langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Akan
tetapi karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul memilih pisah dan
mendirikan usaha sendiri.
Kepiawaiannya
membangun jaringan dan sebagai pengusaha, membuat bisnisnya semakin berkembang.
Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga
bisnis inti : keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia
mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega.
Ia
menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan konglomerasi ini
mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan
beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti
Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti).
Di
bawah Para Group, Chairul memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial,
antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance,
Bank Mega, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah, dan Mega Finance.
Sementara di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para
Bandung Propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, dan Mega
Indah Propertindo. Di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki
Trans TV, Trans7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans
Studio.
Khusus
di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar
ini menghabiskan dana Rp 99 miliar. Para Group meluncurkan Bandung Supermall
sebagai Central Business District pada 1999. Sementara di bidang investasi,
pada awal 2010 Para Group melalui anak perusahaannya, Trans Corp membeli
sebagian besar saham Carefour Indonesia, yakni sejumlah 40 persen. MOU
(memorandum of understanding) pembelian saham Carrefour ini ditandatangani pada
tanggal 12 Maret 2010 di Prancis.
Pada
tahun 2010, majalah ternama Forbes menempatkan Chairul sebagai salah satu orang
terkaya di dunia. Ia berada di urutan ke-937 dengan total kekayaan mencapai USD
1 miliar. Satu tahun kemudian, menurut Forbes, kekayaan Chairul telah meningkat
lebih dari dua kali lipat, yakni dengan total kekayaan USD 2,1 miliar. Tahun
2014, Chairul memiliki kekayaan sebesar USD 4 miliar dan termasuk orang terkaya
nomor 375 dunia.
Pada
tanggal 1 Desember 2011, Chairul Tanjung meresmikan perubahan Para Grup menjadi
CT Corp. CT Corp terdiri dari tiga perusahaan sub holding: Mega Corp, Trans
Corp, dan CT Global Resources yang meliputi layanan finansial, media, ritel,
gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam.
Yang dapat kita
pelajari dari tokoh tersebut adalah :
Seberapa
kecil usahamu akan menjadi berkembang besar jika ditekunin, ingin meraih
kesuksesan tidak ada yang instant semua butuh proses. Jatuh bangun harus kita
lalu pada saat ingin berbisnis, harus menerima resiko apapun itu yang akan
terjadi kedepannya. Oleh maka dari itu kita jangan pantang menyerah untuk
membuka sebuah bisnis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar